Anies vs Jokowi di Pilpres 2019

Anies vs Jokowi di Pilpres 2019 ?

Tony Rosyid

Siapa sangka SBY yang semula adalah menkopolhukam presiden Megawati akhirnya ikut kontestasi di pilpres 2004 dan menang melawan mantan bosnya. Semua orang tak menyangka jika Gusdur yang sebelumnya menjadi pendukung utama Megawati akhirnya justru mengalahkan Megawati dalam pemilihan presiden di tahun 1999. Politik itu dinamis, bahkan teramat dinamis. Tidak ada yang tidak mungkin bila sudah berada di panggung politik. Semua bisa berubah dengan cepat tanpa jangkauan prediksi. Segala bentuk hubungan, platform dan bahkan aturan sedemikian fleksibel untuk beradaptasi dengan dinamika politik yang sedang berjalan. Hukum, etika dan tatakrama seringkali harus tunduk dan "terpaksa" menyesuaikan diri dengan irama politik yang sedang terjadi.

Politik memiliki pola dan karakternya sendiri. Jadi tidak terlalu salah jika ada ungkapan bahwa politik itu mendikte, bukan didikte. Ia eksis sebagai subyek dan bangunan dasar, bukan obyek dan bangunan atas. Bangunan dasar menentukan bangunan atas, bukan sebaliknya. Kalau toh harus tunduk, politik itu hanya tunduk pada kekuatan pemodal, bukan pada Tuhan, apalagi hukum. Sebaliknya, hukum dan Tuhan sering dijadikan ramuan politik untuk sebuah target dari sebuah kepentingan. Dalam politik, siapa yang punya modal, ialah yang punya otoritas menentukan arah kemana dinamika masyarakat dan bangsa akan dikelola untuk menghasilkan keuntungan bagi kelompok pemodal. Proyek Reklamasi dan Meikarta hanyalah bagian dari contoh kecil yang secara kebetulan terlacak oleh mata dan logika publik. Yang bersembunyi di balik permukaan jauh lebih banyak dan lebih besar.

Karena gelombang politik itu sangat dinamis, segala yang akan terjadi tidak mudah diprediksi. Sejarah penyaringan kandidat di pilgub DKI yang lalu misalnya, tidak pernah muncul nama Anies Rasyid Baswedan. Anies muncul di injury time dan akhirnya bernasib menjadi pemenang. Sama halnya jokowi, walikota yang memimpin sekitar 200an ribu lebih masyarakat solo berhasil menjadi gubernur setelah mengadu nasib di pilgub Jakarta. Belum selesai periodenya menjadi gubernur, jokowi mengadu nasibnya kembali di pilpres 2014 dan berhasil menjadi presiden, mengalahkan Prabowo yang telah mengusungnya saat pilkada di DKI. Anies dan jokowi, kedua tokoh alumni UGM ini tergolong bejo, karena kesuksesan karirnya sangat diuntungkan oleh faktor keadaan. Mereka seolah lahir sebagai antitesa situasi politik dan sosial saat itu.

Melihat perbedaan arah politik dan tersedianya area rivalitas diantara kedua tokoh bejo ini yang semakin meluas nampaknya semakin kondusif untuk memberi lahan bagi keduanya menfinalkan pertarungannya di pilpres 2019 yang tinggal dua tahun lagi. Bukan sesuatu yang mustahil jika kedua tokoh ini punya kesempatan bertemu di pilpres 2019, bukan lagi sebagai kandidat dan timses seperti di tahun 2014, tapi sebagai rival. Kalau ini dipahami sebagai sebuah pengandaian, ini pengandaian yang punya dasar pijakan yang rasional.

Rasionalitas ini bisa dijelaskan dalam arena rivalitas yang selama ini terjadi diantara keduanya. Pasca diberhentikan sebagai mendikbud oleh jokowi, Anies didorong oleh Gerindra dan PKS untuk melawan ahok sebagai incumbent di pilkada DKI. Publik tahu bahwa di belakang ahok ada jokowi dengan seperangkat alat dan fasilitas kekuasaan. Ahok akhirnya kalah dan dipenjara karena kasus penistaan agama. Rivalitas tidak lantas berhenti meski ahok sudah kalah dan dipenjara. Proyek reklamasi menjadi area yang memperpanjang episode pertarungan antar keduanya. Jokowi melalui LBP memberi warning kepada Anies-Sandi untuk tidak menghentikan proyek senilai 500 T yang akan menjadi tempat hunian aseng. Anies dan Sandi bergeming. Melalui pidato pertama Anies di Balaikota menegaskan perlawanan akan hal itu. Hersubeno Arief mengistilahkan pidato Anies sebagai pidato gubernur rasa presiden. Apalagi ketika pidato Anies lalu dipolisikan oleh anggota organisasi sayap PDIP, maka area pertarungan antar keduanya semakin tajam dan meluas. Bagaimanapun sosok Jokowi tidak bisa lepas dari partai pengusung utamanya yaitu PDIP.

Jika takdir akhirnya menentukan peserta pilpres 2019 adalah dua kandidat yaitu Anies vs jokowi, dan ini sangat mungkin terjadi, maka mendasarkan pada analisis integritas, kapasitas dan situasi sosial-politik, maka diprediksi Anies akan sedikit lebih diuntungkan atas mantan bosnya itu.
Pertama, Anies dan Jokowi sama-sama tidak menuntaskan tugasnya sebagai gubernur DKI. Kalau ini dianggap sebagai kesalahan politik, maka publik akan lebih menyalahkan orang pertama yang paling bertanggungjawab atas pelanggaran tatakrama politik dan etika kebangsaan. Kalau dianggap sama-sama berdosa, dosa orang pertama akan dianggap lebih besar dibanding dosa orang berikutnya. Ini bukan kalkulasi kuantitatif, tapi lebih pada persepsi, karena politik otoritasnya ada di ruang persepsi.

Kedua, Anies sempat menjadi menteri kabinet jokowi yang diberhentikan. Oleh publik, pemberhentian terhadap Anies bukan karena pertimbangan prestasi, tapi lebih karena alasan untuk memperkuat gerbong koalisi dengan sejumlah partai. Selang tidak begitu lama dari pemecatan Anies mendapat keberuntungan dengan dicalonkan Gerindra dan PKS menjadi cagub DKI melawan ahok. Publik tahu bahwa ahok adalah orangnya jokowi yang diprediksi mendapat back up total dari jokowi. Situasi ini akan menjadi magnet empati rakyat Indonesia yang preferensi psikologisnya lebih dominan dari pada preferensi rasionalnya. Anies akan dianggap sebagai orang yang terdzalimi oleh kekuasaan. Kasus SBY vs Mega di pilpres 2004 bisa jadi akan tereingkarnasi pada sosok Anies vs jokowi di pilpres 2019.

Ketiga, musim kampanye pilpres, KPU mengadakan beberapa kali debat kandidat yang disiarkan langsung oleh hampir semua televisi. Ini akan mengulang keberuntungan Anies sebagaimana di pilgub DKI melawan ketika melawan AHY. Kemampuan Anies merumuskan diksi, memilih kalimat dan meramu ide-ide besar yang terukur telah mampu menumbangkan AHY sebagai pendatang baru yang belum berpengalaman di area teritorial dan retorika konseptual. Ini akan menjadi sisi kelebihan Anies atas jokowi.

Keempat, politik jokowi yang secara konsisten membelah kelompok hijau (muslim kanan) dengan muslim kiri plus nasionalis akan memberi ruang seluas-luasnya bagi Anies untuk menampung kelompok dan komunitas itu menjadi bagian penting yang akan memperbesar gerbongnya. Bandul politik yang selama ini lebih berat ke sisi kanan yang dibuktikan atas kekalahan calon-calon PDIP di berbagai pilkada yang lalu akan menguntungkan posisioning Anies dibanding jokowi.

Kelima, prestasi jokowi selama menjadi presiden 3 tahun ini tidak terlalu membanggakan, alias biasa-biasa saja. Trendnya tidak menunjukkan kualitas yang mampu membuat decak kagum rakyat. Terutama di bidang hukum dan ekonomi justru dianggap memiliki raport kuning kalau tidak merah. Di Indonesia, pemimpin yang dipersepsikan tidak menonjol prestasinya akan sulit untuk melanjutkan ke periode berikutnya. Mega adalah contoh terbaik untuk menggambarkan situasi ini.

Keenam, Anies memiliki jaringan internasional yang luas. Sebagai lulusan universitas di Amerika dan pernah dinobatkan sebagai satu dari 100 ilmuan dunia, Anies akan mudah menggambarkan dengan jelas Indonesia sebagai salah satu negara besar dunia dengan semua potensi dan data-data perbandingan, dibanding jokowi yang selama ini lebih memilih berhubungan dan kerjasama dengan negara-negara berhaluan kiri dan "dicurgai dunia".

Ketujuh, kedekatan Anies dengan dunia internasional terutama Barat akan menjadi kantong-kantong dana untuk membiayai operasional kampanye. Sejak kasus Al-Midah yang melahirkan gelombang massa 212 telah mengeratkan hubungan Anies dengan negara-negara minyak di Timur Tengah. Ini akan menjadi perlawanan sengit terhadap jokowi. Belum lagi "saweran dana" para pendukung yang selama ini konsisten memilih berada di seberang jokowi mungkin akan terulang kembali.

Situasi tidak menguntungkan ini tidak akan dibiarkan berlarut-larut oleh jokowi dan orang-orang di sekelilingnya yang selama ini setia menjadi timses. Dengan kekuasaan di tangan jokowi bisa menkapitalisasi menjadi perlawanan sengit terhadap Anies. Pertama, dengan alat kekuasaan yang dimiliki, jokowi bisa mengganggu program dan kinerja Anies. Apalagi partai koalisi Jokowi yang memiliki kursi mayoritas di DPRD DKI bisa jadi peluang cukup signifikan sebagai alat pengganggu yang efektif, terutama di bidang anggaran.

Belum lagi jika Anies terpeleset, kasus hukum akan menjadi akhir dari perjalanan karir politik Anies. Dalam hal ini Anies akan super hati-hati dalam setiap langkah dan kebijakan dalam memimpin Jakarta. Anies tidak ingin menjadi Anas Urbaningrum kedua yang kalah telak ketika harus berseberangan dengan Presiden SBY. Selama ini pendekatan hukum terbukti efektif bagi jokowi untuk menghadapi lawan-lawannya. Berbagai kasus yang menimpa para pemimpin GNPF adalah contoh terbaru dari efektifnya strategi jalur hukum ini.

Kedua, jokowi bisa rebond dengan membranding ulang citra dirinya. Dengan kekuasaan yang dimiliki, jokowi diuntungkan oleh segenap fasilitas yang memadai untuk memperbesar intensitas dalam berkomunikasi dengan rakyat, baik melalui media maupun blusukan ke kantong-kantong massa. Apalagi jika media saat ini cenderung lebih memilih berkompromi dengan kemauan dan kepentingan penguasa. Meski harus diakui strategi pencitraan jokowi tidak seefektif sebelumnya.

Ketiga, upaya untuk mendekati Umat Islam terus rutin dilakukan dengan memanggil para kiyai khos dan berpengaruh ke istana. Manuver-manuver politik panglima yang belakangan dimengerti sebagai restu Jokowi menunjukkan kesungguhan ikhtiar mendekati Umat Islam sebagai kantong suara terbesar dalam pemilu.

Apapun yang akan terjadi, persaingan Anies vs Jokowi akan berjalan semakin sengit kedepan. Keduanya akan terus bersaing dalam branding untuk membidik jantung simpati rakyat Indonesia. Siapa yang paling piawai mengambil hati rakyat, ialah yang akan jadi pemenang di pilpres 2019. Tentu dengan catatan Anies tidak tersandung masalah selama dua tahun memimpin DKI, dan Jokowi berhasil menuntaskan tugasnya hingga 2019.

THE END
19/10/2017

Pengasuh Mahad Aly Al Falah, sekaligus pendiri komunitas lincak jebol Genuk Semarang