DAMPAK AMAL BAG. 2

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. اَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ

اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumah Yang dirahmati Alloh

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti yang sebenarnya. Yaitu dengan sungguh2 menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan semua laranganNya. Baik kita dalam keadaan sehat maupun sakit, melarat maupun kaya, sendirian atau ditengah orang banyak . karena hanya dengan taqwa inilah maka kita akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam khutbah kami pada bulan januari lalu sudah kami sampaikan bahwa Wujud kita di akhirat kelak ditentukan oleh amal-amal kita didunia ini. Maksudnya semua perbuatan yang kita lakukan di alam dunia ini  akan membentuk wujud kita di alam akhirat,  Dan akan menjelma menjadi mahluk yang akan menemani kita disana . Bila yang kita lakukan amal shaleh di alam dunia ini, dia akan muncul di alam akhirat dalam bentuk mahluk yang sangat indah, harum semerbak dan sangat ceria, menyenangkan,  membahagiakan,  Tapi bila yang kita lakukan amal  buruk, maka yang  muncul adalah makhluk galak menakutkan, garang menyeramkan. dengan bau busuk yang lebih menyengat daripada bangkai. wajahnya sangar  mengerikan

Bila seseorang wafat, dia akan melihat perwujudan amalnya di alam akhirat, dia juga dapat melihat perwujudan amal para tetangganya, istrinya, keluarganya yang masih hidup dalam bentuknya yang beraneka ragam sesuai dengan amal yang mereka lakukan.

Disamping itu amal kita akan menimbulkan dampak sewaktu kita masih didunia, tidak usah nunggu sampai datangnya kematian atau di akhirat, amal kita akan menimbulkan akibat yang nyata, baik di dunia saat ini maupun di akherat  kelak.

Amal baik akan muncul dalam akibat-akibat yang baik, dan begitu pula sebaliknya.

Pertama-tama, dampak amal itu akan mengenai kita yang melakukannya.
Amal adalah benih yang kita tanam.

Apa yang kita tuai nanti sangat bergantung dengan apa yang kita tanam hari ini.

Anda akan menuai permusuhan jika yang anda tanam kebencian. Anda akan memanen cinta, jika yang anda semai kasih sayang.

Lemparkan sampah secara sembarangan maka alam akan membalas kita dengan penyakit dan bencana.

Berikan penghormatan dan perhatian pada lingkungan dengan menjaga kebersihan dan ketertiban maka alam akan membalas kita dengan kenyamanan, ketentraman, kemakmuran, udara segar dan buah-buahan.

Gunakan kekuatan untuk menindas orang-orang di bawah kita.

Pada suatu saat, mereka akan bangkit untuk menghancurkan kita.

Orang bijak sepanjang sejarah memberikan pesan yang sama: Kekerasan akan melahirkan kekerasan lagi. Dendam akan melahirkan dendam lagi. Karena lingkaran keburukan hanya bisa diputuskan dengan kebajikan. Seperti kisah keris Mpu Gandring, pengkhianatan yang satu akan disusul dengan pengkhianatan lainnya.

Berulang-kali Al-Quran menegaskan dampak atau akibat sebuah amal .

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah muncul kerusakan di daratan dan di lautan karena perbuatan tangan-tangan manusia, agar Tuhan membuat mereka merasakan sebagian dari apa yang mereka lakukan, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Al-Rum; 41)

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

"Maka mereka ditimpa oleh akibat kejahatan perbuatan mereka dan mereka diliputi oleh azab yang mereka perolok-olokan itu."

 

Ma'asyirol muslimin rokhimakumulloh.

Suatu ketika pernah seseorang datang pada Nabi saw yang mengeluh karena seluruh keluarganya sering sakit sakitan. Kemudian Rasul berpesan

داووا مرضاكم بالصدقة

sembuhkan orang orang yang sakit di keluargamu dengan shodaqah”.

Bila orang yang gemar bershodaqoh akan diberi kesehatan lahir bathin oleh Allah, maka sebaliknya  orang yang bakhil akan diambil oleh Allah hartanya dengan cara yang menyakitkan, misalnya dia dibuat sakit sakitan yang sulit sembuh kecuali dengan menghabiskan seluruh hartanya.

Hukum kehidupan adalah hukum kausalitas (sebab akibat) siapa yang menabur angin dia pasti akan menuai  badai.

Orang yang suka membantu orang lain, akan dianugrahi hidup yang sehat, tentram dan bahagia.

Kata Rasul “ Cepatnya Rizki datang kepada orang yang suka memberi makan orang lain, lebih cepat dari kelebatan pedang diatas punuk unta”. 

Alqur’an mengatakan dalam Qs. 2 : 276

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

Dengan kata lain  Allah menghapus keberkahan harta yang haram Dan Allah melipat gandakan keberkahan harta yang disedekahkan”.

apa saja yang kita lakukan akan memunculkan  akibatnya yang nyata.  Kalau kita membuang sampah disembarang tempat, alam akan membalasnya dengan berbagai penyakit. Kalau kita menggunduli hutan, alam akan membalasnya dengan banjir.

Bila seseorang suka berzina, akan muncul penyakit Aids, bila orang suka korupsi akan muncul krisis ekonomi yang akut, bila peminpin selalu berdusta, maka akan muncul krisis keprcayaan yang berkepanjangan, begitu seterusnya.

Perbuatan dosa tidak saja mendatangkan bencana, tapi juga dapat meruntuhkan penjagaan yang melindungi manusia, merusak karunia dan anugrah dan menyebabkan terhalangnya doa. Maka itu tidak heran bila banyak  acara “istighasah  atau doa bersama” tidak menghasilkan apa apa.  Sebab sebagian kita masih tidak berhenti bermaksiat kepada Allah.

Lebih dari itu, Al-Quran juga menjelaskan bahwa akibat amal itu bukan hanya akan menimpa pelakunya tetapi juga orang-orang yang tidak bersalah. Mereka mungkin saja anak-anak kita, masyarakat kita, bangsa dan negara kita:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

"Dan Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman tentram dan rezekinya datang berlimpah dari segala penjuru. Lalu penduduk negeri itu kafir kepada anugrah Allah. Maka Allah membuat mereka merasakan pakaian kelaparan dan kehausan karena apa-apa yang sudah mereka lakukan." (QS. Al-Nahl ; 112);

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

"Dan jika Kami bermaksud untuk menghancurkan suatu negeri, kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (supaya bertakwa). Kemudian mereka berbuat dosa di dalamnya. Maka sudah pastilah firman Kami dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya (QS. Al-Isra; 16).

Orang yang berbuat jahat dalam suatu negeri itu mungkin hanya sebagian kecil saja. Tetapi kehancuran diderita oleh seluruh bangsa.

Penderitaan kita sekarang seperti ROB yang terus menggerus desa kita , sehingga desa yang tadinya ijo royo2 ini sedikit demi sedikit menjadi laut ini adalah perwujudan dari amal buruk sebagian dari bangsa kita. Beberapa orang di antara kita mengambil kekayaan negara, dan jutaan orang harus membayar utang. Segelintir kecil merusak hutan, tetapi semua makhluk menderita. Beberapa orang karena keserakahannya membakar hutan, maka jutaan orang yang menderita terkena asap . ibu yang minum obat penenang thalidomide misalnya, lalu anak-anaknya menderita cacat tubuh yang mengenaskan.

Sampai di sini, mungkin ada yang merenung apakah yang kita perbincangkan hari ini bertentangan dengan prinsip keadilan ilahi. Seseorang berbuat salah, tetapi orang lain menanggung akibatnya. Bukankah Tuhan berkata, "Tidaklah seseorang akan menanggung dosa orang lain." Jawaban kita singkat saja. Yang tidak akan ditanggung adalah dosa. Adapun dampak atau akibat akan mengenai, bukan hanya yang berbuat dosa. Tuhan berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaannya." (QS. Al-Anfal; 25).

Seperti seorang bapak yang membakar rumahnya. Di rumah itu ada anaknya yang sedang tidur pulas, Anak itu mati terbakar. Bapak yang membakar tentu saja masih hidup. Anak itu terkena dampak dosa bapaknya, tetapi anak itu tidak menanggung dosa apa pun. Ia bahkan mendapat pahala mati syahid, karena menjadi korban kekejaman bapaknya. Si bapak menanggung doa berlipat ganda sesuai dengan jumlah korban yang menderita karena dampak dosanya.

Ma'asyirolMuslimin Rahimakumulloh,

jagalah anak-anakmu dengan amal salihmu. Jangan celakakan mereka dengan perbuatan burukmu

Jadi, sekali lagi  perbuatan  baik  akan berakibat baik pada kehidupan kita di dunia dan kehidupan di akherat. Demikian juga sebaliknya perbuatan buruk akan berakibat buruk pula pada kehidupan di dunia dan kehidupan di akherat.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

 

 

Pengasuh Mahad Aly Al Falah, sekaligus pendiri komunitas lincak jebol Genuk Semarang